Indonesia sebagai negara dengan jumlah
penduduk ke-4 terbanyak di dunia yaitu 237.641.326
jiwa, menunjukan pertumbuhan penduduk di Indonesia sangat cepat. Pertumbuhan
penduduk dari tahun ke tahun selalu mengalami kenaikan yang signifikan. Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyampaikan pada tahun
ini penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 250 juta jiwa dengan
pertumbuhan penduduk 1,49% per tahun. Namun, kenaikan jumlah penduduk ini tidak
diikuti dengan tersedianya jumlah lapangan pekerjaan yang dapat menjadi salah
satu cara untuk meningkatkan kualitas dan taraf hidup masyarakat. Akibatnya, masalah
kependudukan di Indonesia pun sampai saat ini sangat sulit untuk diatasi.
Banyaknya jumlah pengangguran merupakan salah satu masalah kependudukan yang
terus berkembang yang sangat mempengaruhi perekonomian karena dengan adanya
pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan
berkurang. Selain itu, pengangguran juga
mengakibatkan penurunan kualitas hidup manusia baik dari segi pendidikan,
kesehatan, sosial, budaya, dan tentu saja ekonomi.
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama
sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu,
atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran
umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya.
Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan
adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang
sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya. Tingkat
pengangguran dapat dihitung dengan membandingkan jumlah pengangguran dengan
jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan
pendapatan juga menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya
yang pada akhirnya akan menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan
kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk
terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat
pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik, keamanan dan
sosial. Selain itu, penganguran
dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : tekanan demografis dengan
jumlah dan komposisi angkatan kerja yang besar, pertumbuhan ekonomi yang jauh
lebih kecil daripada pertumbuhan angkatan kerja, jumlah lapangan kerja yang
tersedia lebih kecil dari jumlah pencari kerja, serta masih adanya tindakan
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang disebabakan oleh perusahaan yang menutup atau mengurangi
bidang usahanya akibat krisis.
Pengangguran juga digolongkan menjadi
2 golongan besar, yaitu berdasarkan jam kerja maupun penyebab terjadinya.
Berdasarkan jam kerja, pengangguran dikelompokkan menjadi 3 macam:
- Pengangguran Terselubung (Disguised Unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu.
- Setengah Menganggur (Under Unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
- Pengangguran Terbuka (Open Unemployment) adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Pengganguran jenis ini cukup banyak karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal.
Berdasarkan
penyebab terjadinya, pengangguran dikelompokkan menjadi 7 macam:
- Pengangguran friksional (frictional unemployment)
Pengangguran
friksional adalah pengangguran karena pekerja menunggu pekerjaan yang lebih
baik.
- Pengangguran Struktural (Structural unemployment)
Pengangguran
yang disebabkan oleh penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu
memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja.
- Pengangguran Teknologi (Technology unemployment)
Pengangguran
yang disebabkan perkembangan/pergantian teknologi. Perubahan ini dapat
menyebabkan pekerja harus diganti untuk bisa menggunakan teknologi yang
diterapkan.
·
Pengangguran Siklikal
Pengangguran
yang disebabkan kemunduran ekonomi yang menyebabkan perusahaan tidak mampu
menampung seua pekerja yang ada.
- Pengangguran Musiman
Pengangguran
akibat siklus ekonomi yang berfluktuasi karena pergantian musim. Umumnya pada
bidang pertanian.
- Setengah Menganggur
Pengangguran
dimana pekerja yang hanya bekerja dibawah jam normal (sekitar 7-8 jam per hari)
- Pengangguran Tidak Kentara
Dari penyebab diatas,
tentu pengangguran juga menimbulkan masalah-masalah baru. Bagi masyarakat,
pengangguran menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan, berkembangnya
kejahatan, bertambahnya perumahan kumuh, bertambahnya anak-anak jalanan, serta
menurunnya tingkat pendidikan pelajar. Bagi perekonomian negara, pengangguran
memberikan dampak sebagai berikut.
- Penurunan pendapatan perkapita.
- Penurunan pendapatan pemerintah yang berasal dari sektor pajak.
- Meningkatnya biaya sosial yang harus dikeluarkan oleh pemerintah.
Hal inilah yang membuat masalah pengangguran menjadi semakin
kompleks dan rumit. Penyelesaiannya pun tidak dapat seperti membalikkan telapak
tangan semata. Seluruh pihak harus ikut campur tangan dalam mengatasinya, baik
pihak perusahaan, pemerintah, ataupun masyarakat itu sendiri.
Berdasarkan penyebab dan akibat yang
ditimbulkan dari masalah pengangguran, maka muncullah pertanyaan yang mungkin
dapat dijadikan solusi dalam pengentasan pengangguran tersebut yaitu :
BEKERJA ATAU USAHA ??????
Menurut saya, kegiatan usaha lebih baik
daripada bekerja, karena apabila kita melihat kondisi Indonesia saat ini sangat
sulit untuk menempatkan jumlah pengangguran yang sudah membludak. Jumlah
perusahaan memang banyak, namun rata-rata dimiliki oleh pihak asing yang
menanamkan modalnya di Indonesia. Hal ini memang sangat memprihatinkan melihat
kondisi Indonesia yang memiliki sumber daya melimpah namun dikuasai oleh pihak
asing yang mengambil keuntungan di negara ini. Selain itu, persyaratan yang
ditentukan juga sangat tinggi. Padahal, sebagian besar pengangguran yang ada di
Indonesia adalah orang-orang yang tidak tamat belajar yang tidak memiliki skill
yang menghuni. Itulah sebabnya, ketika ada orang Indonesia yang bekerja di
perusahaan asing sebagian besar hanya ditempatkan pada posisi-posisi tingkat
bawah dimana penghasilan mereka tidak mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan
hidup mereka di Jakarta. Jakarta sebagai ibukota negara kita yang juga
merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia memiliki tingkat
pertumbuhan perekonomian yang sangat cepat. Jadi, membuat kegiatan usaha yang
lebih menuntut kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
masing-masing lebih diharapkan untuk dilakukan.
Wirausaha
atau kewirausahaan adalah proses yang terjadi atau dilakukan demi meningkatnya
kesejahteraan yang lebih dinamis yang mampu menanggulangi segala resiko yang
dihadapi baik dari segi waktu, modal, maupun komitmen yang kemudian dapat
memberikan nilai kepada suatu jasa ataupun suatu barang. Menurut Carol Noore
yang dikutip oleh Bygrave, proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi
tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun
di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan
lingkungan. Faktor-faktor tersebut membentuk kreativitas,
keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembangan menjadi wirausahawan yang besar.
Secara internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari
individu, seperti toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman. Sedangkan
faktor yang berasal dari lingkungan yang memengaruhi diantaranya model peran,
aktivitas, dan peluang. Oleh karena itu, inovasi berkembang menjadi
kewirausahaan melalui proses yang dipengaruhi lingkungan, organisasi, dan keluarga.
Namun, kegiatan wirausaha juga memiliki
kelemahan maupun kelebihannya masing-masing. Salah satu kelemahannya yaitu
dalam hal kepemilikan modal. Ketika ingin memulai suatu usaha, hal pertama yang
sangat diperlukan yaitu modal. Sedangkan sebagian besar masyarakat Indonesia,
khususnya yang pengangguran adalah orang-orang memiliki tingkat ekonomi rendah.
Oleh karena itu, peran pemerintah dalam hal ini kembali sangat diperlukan.
Pemerintah dapat memberikan bantuan berupa peminjaman modal melalui bank-bank
perkreditan dimana bunga dalam pengembaliannya kecil sehingga dapat mempermudah
masyarakat dalam waktu pengembaliannya. Selain itu, kemampuan (skill) yang dimiliki juga tergolong
rendah. Padahal dalam sebuah kegiatan usaha, peran seorang wirausaha sangat
dibutuhkan dalam mengembangkan kegiatan usahanya agar berjalan baik dan
menghasilkan keuntungan yang besar bagi dirinya.
Dibalik kelemahan tersebut,
terdapat kelebihan-kelebihan dalam berwirausaha. Ketika seorang wirausaha telah
berhasil mengembangkan usahanya, tidak menutup kemungkinan keberadaan seorang
wirausaha dapat berperan dalam perekonomian Indonesia juga. Peran tersebut
antara lain sebagai berikut.
- Menciptakan lapangan kerja
- Mengurangi pengangguran
- Meningkatkan pendapatan masyarakat
- Mengombinasikan faktor–faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal dan keahlian)
- Meningkatkan produktivitas nasional
Sebenarnya banyak cara-cara yang
telah dikeluarkan dalam mengatasi pengangguran tersebut. Adanya bermacam-macam
pengangguran menimbulkan berbagai macam cara-cara untuk mengatasinya yang
disesuaikan dengan jenis pengangguran yang terjadi, yakni sebagai berikut.
Cara Mengatasi Pengangguran
Struktural
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang
digunakan adalah :
- Peningkatan mobilitas modal dan tenaga kerja.
- Segera memindahkan kelebihan tenaga kerja dari tempat dan sector yang kelebihan ke tempat dan sektor ekonomi yang kekurangan.
- Mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk mengisi formasi kesempatan (lowongan) kerja yang kosong, dan
- Segera mendirikan industri padat karya di wilayah yang mengalami pengangguran.
Cara Mengatasi Pengangguran
Friksional
Untuk mengatasi pengangguran secara umum antara lain
dapat digunakan cara-cara sebagai berikut.
- Perluasan kesempatan kerja dengan cara mendirikan industri-industri baru, terutama yang bersifat padat karya.
- Deregulasi dan debirokratisasi di berbagai bidang industri untuk merangsang timbulnya investasi baru.
- Menggalakkan pengembangan sektor informal, seperti home industry.
- Menggalakkan program transmigrasi untuk menyerap tenaga kerja di sektor agraris dan sektor formal lainnya.
- Pembukaan proyek-proyek umum oleh pemerintah, seperti pembangunan jembatan, jalan raya, PLTU, PLTA, dan lain-lain sehingga bisa menyerap tenaga kerja secara langsung maupun untuk merangsang investasi baru dari kalangan swasta.
Cara Mengatasi Pengangguran Musiman
Jenis pengangguran ini bisa diatasi dengan cara
sebagai berikut.
- Pemberian informasi yang cepat jika ada lowongan kerja di sektor lain, dan
- Melakukan pelatihan di bidang keterampilan lain untuk memanfaatkan waktu ketika menunggu musim tertentu.
Cara Mengatasi Pengangguran Siklis
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini antara lain
dapat digunakan cara-cara sebagai berikut.
- Mengarahkan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa, dan
- Meningkatkan daya beli masyarakat.
Jadi, menurut saya, masalah pengangguran memang kompleks dan
membutuhkan keseriusan dalam
pengentasannya. Apapun penyelesaian yang dipilih, baik bekerja maupun berusaha,
tetap dapat menjadi pilihan yang sangat baik apabila ada keseriusan dari semua
pihak dalam memperbaiki perekonomian di Indonesia. Ketika ada kemauan, pasti
ada jalan (when there is a will, there is
a way).
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Kewirausahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar